:: Hot News

Bersikap Dewasa
Posted On : 13-11-2012
View : 2257 times

joebiden-barackobamaTerpilihnya Obama dan Jokowi

Barack Obama kembali terpilih sebagai presiden AS kedua kalinya, menang atas Mitt Romney calon presiden dari Partai Republik dalam pemilihan presiden AS lalu. Pendukung Obama dan Romney sangat berbeda. Obama banyak didukung oleh warga kulit hitam, non kulit putih lainnya, wanita, orang muda, dan warga kulit putih berpenghasilan menengah kebawah. Sedangkan pendukung Romney umumnya warga kulit putih dan masyarakat berpenghasilan menengah keatas. Memang dari dulu Partai Demokrat lebih pro rakyat kecil, sedangkan Partai Republik lebih pro orang kaya. Hasil pemilihan ini (termasuk periode sebelumnya) menunjukkan warga AS semakin bersikap dewasa. Mereka mau menerima presiden dan wakilnya dari warga "minoritas". Obama yang berkulit hitam berpasangan dengan Joe Biden yang beragama katolik, di tengah masyarakat AS yang mayoritas Protestan. Sebelumnya, pada saat pencalonan nominasi  calon presiden  di kubu Partai Republik, pengusaha terkenal Donald Trump yang mencalonkan diri pernah berusaha mencari popularitas dengan mempertanyakan keaslian Obama sebagai warga kelahiran AS. Ternyata isu ini menjadi bumerang bagi Trump. Baru di tahap kampanye ia sudah tersingkir.

Jokowi-AhokTerpilihnya Jokowi-Ahok (Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama) dalam pilgub Jakarta dengan mengalahkan pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli cukup mengagetkan banyak orang. Padahal Fauzi didukung oleh partai-partai besar yang tergabung dalam koalisasi partai pendukung presiden SBY. Bahkan isu SARA pun sempat berhembus untuk tidak memilih pasangan Jokowi-Ahok. Ditambah lagi mereka berdua bukan "orang Jakarta", dan jabatan mereka sebelumnya pun tidak bercitra tinggi. Jokowi "hanya" walikota Solo,  dan Ahok "hanya" mantan bupati Belitung Timur. Tapi masyarakat Jakarta menunjukkan kedewasaan mereka dengan memilih  pasangan yang menurut mereka lebih memberi harapan untuk menjadikan Jakarta kota yang lebih baik, tidak peduli asalnya dari mana.

NgempengKedewasaan Bukanlah Usia

Kedewasaan tidak berkaitan dengan umur. Banyak orang dewasa, bahkan yang sudah tua pun, ada yang bersikap tidak dewasa. Lamanya hidup belum tentu membuat seseorang menjadi dewasa.  Ada yang masih bersikap kekanak-kanakan.  Almarhum Gus Dur saat menjadi presiden RI pernah mengeritik anggota DPR yang dikatakannya bertingkah laku seperti anak-anak di Taman Kanak-Kanak. Anak-anak memang masih labil emosinya. Mereka gampang mengeluh, cengeng, merengek, ngambek, tidak sabar, marah-marah, menangis.

Anak kecil yang kekanak-kanakan adalah wajar, meski tetap menjengkelkan. Menjadi tidak wajar kalau yang kekanak-kanakan adalah orang dewasa. Entah ia karyawan di kantor atau seorang pimpinan.  Kasus Donald Trump yang mengungkit keaslian Obama menunjukkan ketidak-dewasaannya dalam berkampanye. Sayang sekali pengusaha sekaliber Trump seperti kehabisan ide, kreatifitas dan akal sehat dengan menampilkan isu yang tidak bisa dibuktikannya, hanya gosip!

Sikap Kedewasaan dalam Keseharian

Kita bisa menilai kedewasaan seseorang dari sikapnya sehari-hari.  Orang yang memiliki sikap kedewasaan memiliki ciri-ciri berikut:

  1. Memiliki integritas. Orang yang demikian satu kata dengan perbuatan. Ia bisa dipercaya dan diandalkan. Memprioritaskan kebenaran. Tidak memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya.
  2. Menghargai perbedaan. Bersikap inklusif, tidak berprinsip "kita dan mereka". Menghargai kemajemukan, dan tidak menganggap dirinya paling baik dan paling benar.
  3. Sportif. Menjunjung tinggi aturan main. Menghormati keunggulan orang lain, dan tidak iri hati. Tidak mencari keuntungan dengan merugikan orang lain.
  4. Bertanggung jawab. Bekerja dengan benar. Menghargai waktu dan menepati janji. Tidak melemparkan kesalahan pada orang lain.
  5. Mau mendengarkan.  Ia pendengar yang baik. Tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus diam.

Berhubungan dengan orang yang memiliki ciri-ciri kedewasaan seperti ini tentu menyenangkan sekali. Jika ia anggota keluarga kita, suasana di rumah menjadi harmonis. Jika ia seorang teman, ia bisa menjadi sahabat yang baik. Jika ia seorang atasan, ia bisa menjadi mentor yang baik. Tetapi... jika berhadapan dengan orang yang sebaliknya, kasihanilah ia!

 

Salam Brilian!

Jim Mintarja, Founder & Master Coach 'ACME International'

 

 

Artikel sebelumnya :

• Belajar dari Mandela
• Pergaulan Mengubah Diri Anda
• Integritas sebagai Cermin Diri Anda
• Jika Bisa Memimpin Kuda, Anda Bisa Memimpin Orang
• Hindari Jerat-Jerat Kehidupan
• Jangan Sia-Siakan Waktu Tersisa
• Bersiap Menghadapi Krisis 2011
• Bakat Saja Tidak Cukup
• Anda Layak menjadi Pemimpin?
• Anak Belajar dengan Kasih
• Memberdayakan Orang Terbaik
• Jangan Pusingkan UN
• Saatnya untuk Berani Memulai
• Dibalik Runtuhnya Japan Airline
• Kekuatan dari Kasih & Kebersamaan
• Karakter Lebih Penting daripada Reputasi
• Jalan Aman Menuju Sukses
• Belajar dari Orang Sukses
• Faktor Utama Menuju Sukses
• Anda Bisa Ikut Membangun Dunia yang Lebih Baik
• Kehidupan Sukses yang Seimbang
• Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship
• Menghadapi Seleksi Alam
• Solusi di Masa Krisis
• Menjadi Bangsa yang Semakin Dewasa
• Pikir dahulu keuntungan, sesal kemudian tak berguna…
• Kapan Krisis Berakhir?
• Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
• Berkompetisi dengan Sehat
• Menciptakan Peluang dari Badai Krisis
• Pengusaha yang tidak beretika
• Perusahaan mana yang paling aman untuk berkarir?
• Semangat Pantang Menyerah
• Bangsa yang Ingin Berubah
• Bangsa Berkarakter Unggul