:: Hot News

Integritas sebagai Cermin Diri Anda
Posted On : 18-04-2012
View : 2208 times

Father & Son FishingTangkapan Istimewa Seumur Hidup

Di suatu senja, seorang remaja putra yang berusia sebelas tahun memancing bersama ayahnya di dermaga  keluarganya di sebuah danau di New Hampshire, AS. Saat itu adalah menjelang dimulainya secara resmi musim pemancingan ikan bass.

(Ikan bass adalah sejenis ikan air tawar yang bisa mencapai bobot hingga 10 kg. Dikenal sebagai ikan yang memiliki tenaga yang kuat, sehingga disukai pemancing ikan. Pemancingan ikan bass,  telah menjadi kegiatan yang populer di AS bagian utara. Berbagai turnamen diadakan setiap tahun. Bahkan ada yang bertotal hadiah hingga satu juta dolar. Untuk menjaga populasinya, ada aturan yang mengatur waktu diperbolehkannya memancing ikan ini)

Dengan menggunakan umpan cacing, mereka memancing ikan perch (sejenis ikan tawar berbobot 0,5 hingga 1 kg). Kemudian, remaja ini berlatih memancing dengan menggunakan umpan perak kecil. Ketika tangkai pancingnya melengkung berat, ia tahu ada sesuatu yang besar tersangkut di ujung pancingnya. Sang ayah mengamati dengan kagum anaknya yang dengan tangkas menangani pancingannya. Akhirnya, dengan hati-hati dia berhasil mengangkat ikan yang kelelahan itu dari air. Ikan terbesar yang pernah dilihatnya, seekor ikan bass!

Mereka mengamati ikan yang indah itu dibawah sinar bulan. Sang ayah menyalakan korek api dan melihat arlojinya. Pukul 10 malam, dua jam sebelum dimulainya musim penangkapan ikan bass. Sang ayah kemudian melihat ke anaknya, dan berkata, "Kau harus mengembalikannya, Nak."  Anak itu menengok ke seputar danau. Dibawah sinar bulan, tidak terlihat ada pemancing lain di sekitar mereka. Dia menoleh lagi ke ayahnya, "Ayah...". Belum selesai ia berkata, "Masih banyak ikan lain", sahut ayahnya. "Tapi tidak ada yang sebesar ini", ia merengek. Dari suara tegas ayahnya dia tahu keputusan itu tidak bisa diganggu-gugat. Perlahan-lahan dia melepaskan kail dari ikan besar itu, lalu menurunkannya ke dalam air yang gelap. Dia yakin sekali, tidak akan pernah lagi bisa menangkap ikan sebesar itu.

Kini si anak itu sudah menjadi seorang arsitek sukses di New York City. Dia sering mengajak putra-putrinya memancing dari dermaga yang sama. Memang benar, dia tidak pernah lagi berhasil memancing ikan sebesar yang pernah ditangkapnya malam itu. Jika pada malam itu ayah dan anak itu sepakat untuk menyimpan ikan tangkapannya, tidak ada orang lain yang tahu. Namun, dia belajar hal yang sangat sederhana dari ayahnya, yaitu berbuat benar sekalipun tidak ada orang lain di sekitar kita. Ketika menghadapi masalah etika dalam bisnis dan kehidupannya, dia selalu berpegang pada kejadian malam itu. (Kisah diatas adalah cuplikan dari "Everyday Greatness", kisah-kisah pilihan Reader's Digest, yang diterbitkan oleh Gramedia)

Jika atletik adalah induk dari semua cabang olahraga, dan filsafat adalah induk dari semua ilmu pengetahuan, maka induk dari kualitas manusia adalah integritas. Orang yang memiliki integritas adalah orang yang perbuatannya sesuai dengan ucapannya, yang mencerminkan keluhuran budinya. Mereka adalah orang-orang yang melakukan kebenaran setiap saat (bukan hanya sekali-sekali, ketika situasinya memungkinkan), baik di depan orang lain maupun tanpa kehadiran orang lain. Hanya antara dia dan Tuhan. Dalam bersikap dan bertindak, mereka mengutamakan kebenaran, bukan mengandalkan kekuasaan atau kekayaan, apalagi dengan menyiasati sistim,  hukum dan aturan. Kebenaran bukanlah ciptaan manusia jenius , bukan juga dihasilkan oleh penguasa, politikus, ataupun tokoh agama. Sebaliknya, kualitas seorang manusia, apapun jabatan dan status sosialnya, akan ditentukan oleh tindakan-tindakannya yang diperbandingkan dengan kebenaran. Semakin dekat dengan kebenaran, semakin tinggi kualitas dan keluhuran budinya. Demikian pun sebaliknya.

Burhanuddin LopaKebenaran Tidak Untuk Dikompromikan

Ketika menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (1982-1986), ia mengusut kasus korupsi  penyelewengan tanah Pemda oleh seorang pengusaha kaya yang merupakan "orang kuat" Sulawesi Selatan. Ia mengabaikan tekanan berbagai pihak, dan menjebloskan pengusaha tersebut ke penjara. Buntutnya, jaksa pemberani tersebut, Baharuddin Lopa, dimutasi menjadi staf ahli Menteri Kehakiman. Kejujuran dan integritas pria kelahiran Mandar, Sulawesi Selatan, dipahami benar oleh keluarga, teman dan bawahannya. Istri dan tujuh anak-anaknya dilarang menggunakan kendaraan dinas, sehingga kemana-mana mereka menggunakan angkutan kota. Telepon dinas di rumahnya pun selalu ia kunci. Selain dia, orang lain tidak boleh menggunakannya. Bahkan pak Lopa juga memilah-milah tagihan telepon yang dipakai untuk dinas dan keperluan pribadinya. Salah satu putrinya, Aisyah, saat menjadi panitia seminar di kampusnya Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, pernah mendapat "pelajaran" dari ayahnya. Ketika kekurangan kursi, ia datang ke kantor ayahnya untuk meminjam kursi. Sebagai jawabannya, pak Lopa mengambil sebuah kursi lipat dan memperlihatkan tulisan dibaliknya. "Baca ini, inpentaris Kejaksaan Sul-Sel, bukan inpentaris Universitas Hasanuddin." Aisyah meninggalkan kantor ayahnya tanpa hasil. Saat Abdulrachman Wahid menjadi presiden RI, Lopa diangkat menjadi Kepala Jaksa Agung RI. Ia mulai mengusut kasus-kasus korupsi mega yang melibatkan beberapa konglomerat. Sayang... ia hanya menjabat selama satu bulan, meninggal di Arab Saudi ketika sedang menunaikan ibadah haji.

Melakukan sesuatu yang benar (bukan melakukan sesuatu dengan benar), Kemungkinannya kecil bagi orang yang tidak memiliki integritas. Bahkan untuk mengatakan hal yang benar saja sudah sulit. Namun bagi orang yang berintegritas, melakukan sesuatu yang benar bukanlah perhitungan untung-rugi untuk dirinya, namun merupakan panggilan hatinya, sekalipun besar resiko bagi dirinya.

Mayor Jendral Romeo DallairePanggilan Hati

Dunia mengenal peristiwa ini sebagai genosida Rwanda. Di suatu negara Afrika yang tidak banyak dikenal orang, berpenduduk 7,4 juta jiwa, dengan komposisi 85% suku Hutu, 14% suku Tutsi, dan 1% suku Twa. Bermula 6 April 1994 ketika Juvenal Habyarimana, Presiden Rwanda yang berasal dari suku Hutu, tewas saat pesawat yang ditumpanginya ditembak jatuh. Tentara dan milisi suku Hutu menuduh kelompok suku Tutsi yang melakukannya. Perdana Menteri Agathe Uwilingiyama yang berasal dari suku Tutsi dibunuh bersama dengan 10 tentara perdamaian PBB asal Belgia yang melindunginya.  Tuduhan itu hanya alasan, karena pembantaian ini memang sudah direncanakan, karena sekelompok orang Hutu menentang usaha presiden Juvenal yang menginginkan perdamaian di Rwanda dengan membagi kekuasaan kepada suku Tutsi. 

Ketika pembunuhan mulai merebak di seluruh negeri, tentara dari beberapa negara Eropa berdatangan, bukan untuk mencegah pembunuhan, tetapi untuk mengevakuasi orang-orang Eropa yang bekerja disana. Sekitar lima ratus tentara perdamaian PBB asal Belgia, yang merupakan unit terbesar dari 2.500 tentara PBB, paling terlatih, dan dengan perbekalan paling lengkap, ditarik oleh pemerintah Belgia. Atas desakan Amerika Serikat, PBB menarik pasukannya dari Rwanda, dengan hanya menyisakan pasukan kecil "penjaga perdamaian" yang sebagian besar orang Afrika, dipimpin oleh Mayor Jendral Romeo Dallaire (asal Kanada) yang menolak meninggalkan Rwanda. Seorang jendral dari Angkatan Bersenjata Kanada yang pernah bertugas dalam misi perdamaian PBB di Kamboja dan Bosnia.

Dengan pasukan dan perlengkapan seadanya ia harus menghadapi kekejaman tentara dan milisi Tutsi. Sering ia harus mengambil resiko dengan memecah pasukannya menjadi unti-unit kecil untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang-orang Tutsi. Suatu kali orang-orangnya yang tanpa senjata harus menjaga sekitar 1000 orang Tutsi yang berlindung di Hotel Mille Dollines yang terletak di ibukota Kigali, sementara ribuan orang Hutu mengepung lokasi itu. Adegan yang menegangkan di hotel ini sudah pernah difilmkan oleh Hollywood dengan judul "Hotel Rwanda".

Dalam pembantaian yang berlangsung 100 hari itu, diperkirakan Romeo Dallaire dan pasukannya menyelamatkan sekitar 25.000 orang Tutsi. Suatu jumlah yang besar. Namun, bagi Dallaire, jumlah ini terlalu kecil dibandingkan korban pembunuhan yang  lebih dari 800.000 orang. Ada yang memperkirakan sekitar satu juta orang terbunuh. Oleh karena itu, ia merasa malu telah gagal menyelamatkan lebih banyak orang Tutsi. Gagal meyakinkan atasannya di PBB untuk mengirim lebih banyak pasukan. Gagal memohon kepada Amerika Serikat dan negara-negara Eropa untuk mengirim bantuan. Gagal dalam usahanya membujuk dunia untuk menghentikan pembantaian di Rwanda.

Genosida itu berakhir bukan karena akhirnya pembesar-pembesar PBB dan negara-negara besar berubah pikiran, tetapi dihentikan oleh keberanian orang-orang Tutsi yang bangkit melawan, orang-orang Hutu yang memiliki nurani, para pemberani dari beberapa negara yang bekerja sebagai petugas Palang Merah dan jurnalis yang mengabdi pada kemanusiaan, serta lima ratus penjaga perdamaian yang mempertaruhkan nyawa mereka, dan komandan mereka yang berintegritas: Romeo Dallaire.

Kenneth Lay dan Jeffrey SkillingPemimpin Harus Bisa Diandalkan

Integritas bukan hanya dibutuhkan untuk petinggi di pemerintahan dan ketentaraan, di perusahaan pun demikian. Jika Anda seorang pemimpin perusahaan atau atasan, apakah bawahan  Anda bisa mengandalkan Anda? Ketika karir Anda semakin menanjak, penghasilan dan fasilitas bertambah, apakah Anda juga meningkatkan kesejahteraan orang-orang yang telah bekerja untuk Anda selama ini? Bangkrutnya Enron Corporation (perusahaan energi terbesar di AS) di tahun 2001 memberikan pelajaran pahit bagi pemegang saham dan karyawan ketika perusahaan dipimpin orang-orang yang tidak memiliki integritas. Perusahaan yang tahun 2000 melaporkan pendapatan USD 100 miliar, sekonyong-konyong bangkrut pada tahun berikutnya. Sahamnya yang mencapai harga USD 90 per lembar "terjun bebas" menjadi USD 45 sen. Mala petaka ini terjadi karena selama beberapa tahun para eksekutif Enron merekayasa laporan keuangan dengan melibatkan auditor dan analis keuangan. Akibatnya 20.000 karyawan Enron bukan saja kehilangan pekerjaan, tapi tabungan pensiun mereka juga lenyap karena semuanya diinvestasikan dalam saham perusahaan.

Kasus bangkrutnya beberapa bank sehingga uang  nasabah yang dipercayakan pada bank ikut lenyap telah beberapa kali terjadi di Indonesia. Beberapa pemiliknya meski dinyatakan sebagai buronan, masih hidup sebagai orang kaya-raya di luar negri. Dalam sejarah perbankan Indonesia, hanya bangkrutnya Bank Summa (milik Edward Soeryadjaja) di tahun 1992 yang tidak mengorbankan nasabah, karena ayahnya (Wiiliam Soeryadjaja, pendiri dan pemilik PT Astra International) melepaskan sebagian besar sahamnya di Astra untuk menyuntikkan dana ke Bank Summa.

Integritas adalah Pilihan

Menjadi orang yang memiliki integritas atau tidak adalah pilihan. Kita bisa memilih menjadi orang seperti Baharuddin Lopa, Romeo Dellaire dan William Soeryadjaja. Atau menjadi Kenneth Lay dan Jeffrey Skilling (keduanya mantan pimpinan Enron), serta sederetan orang bermasalah lainnya. Bagi yang memiliki anak yang belum dewasa, bisa mulai menanamkan pada anak seperti yang dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya yang menangkap ikan bass sebelum waktunya. Kita juga bisa mengajari mereka memungut dan menyingkirkan sebuah paku yang tergeletak di jalan umum agar tidak melukai orang lain yang lewat atau membocorkan ban kendaraan yang melintas. Jika anjing kesayangannya ketika diajak berjalan-jalan membuang hajat di jalan, ia wajib menyingkirkan "ranjau" itu agar tidak terinjak orang yang lewat. Ketika ia menemukan suatu barang yang tertinggal, ajari cara mengembalikan kepada pemiliknya. Melakukan kebenaran bisa dimulai dari hal-hal kecil. Jika sudah menjadi kebiasaan, terbentuklah karakter.  

Salam Brilian!

Jim Mintarja, Founder & Master Coach 'ACME International'

Artikel sebelumnya :

• Belajar dari Mandela
• Pergaulan Mengubah Diri Anda
• Bersikap Dewasa
• Jika Bisa Memimpin Kuda, Anda Bisa Memimpin Orang
• Hindari Jerat-Jerat Kehidupan
• Jangan Sia-Siakan Waktu Tersisa
• Bersiap Menghadapi Krisis 2011
• Bakat Saja Tidak Cukup
• Anda Layak menjadi Pemimpin?
• Anak Belajar dengan Kasih
• Memberdayakan Orang Terbaik
• Jangan Pusingkan UN
• Saatnya untuk Berani Memulai
• Dibalik Runtuhnya Japan Airline
• Kekuatan dari Kasih & Kebersamaan
• Karakter Lebih Penting daripada Reputasi
• Jalan Aman Menuju Sukses
• Belajar dari Orang Sukses
• Faktor Utama Menuju Sukses
• Anda Bisa Ikut Membangun Dunia yang Lebih Baik
• Kehidupan Sukses yang Seimbang
• Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship
• Menghadapi Seleksi Alam
• Solusi di Masa Krisis
• Menjadi Bangsa yang Semakin Dewasa
• Pikir dahulu keuntungan, sesal kemudian tak berguna…
• Kapan Krisis Berakhir?
• Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
• Berkompetisi dengan Sehat
• Menciptakan Peluang dari Badai Krisis
• Pengusaha yang tidak beretika
• Perusahaan mana yang paling aman untuk berkarir?
• Semangat Pantang Menyerah
• Bangsa yang Ingin Berubah
• Bangsa Berkarakter Unggul