:: Hot News

Jika Bisa Memimpin Kuda, Anda Bisa Memimpin Orang
Posted On : 17-07-2011
View : 2252 times

kuda latihSudah empat bulan saya menunggu peristiwa bermakna untuk bahan HOT NEWS, namun belum menemukannya, karena berita setiap hari hampir sama. Hanya tentang korupsi dan penyelewengan. Sampai saya berpikir, apakah saya kehabisan inspirasi?  Untunglah kenihilan ini terhapus dengan beberapa hal menarik dalam beberapa hari ini, tentang kepemimpinan.

Semua orang ingin menjadi pemimpin. Bisa nyuruh-nyuruh orang, kata-katanya didengar, dihormati, bisa gratis dalam banyak hal, apalagi kalau ada "sampingannya".  Pokoknya ueeeeenak! Maka kursi kepemimpinan selalu menjadi rebutan, sekalipun kompetensi orangnya kurang. Menjadi pemimpin bukan lagi merupakan panggilan untuk melayani, tapi memanggil-manggil minta dilayani! Menjadi pemimpin sejati, yang diikuti orang, ternyata susah. Jangankan meminta banyak orang mengikuti, meminta seekor kuda mengikuti perintah kita saja ternyata susahnya bukan main. Jika Anda ingin menjadi pemimpin, di keluarga, di perusahaan, di organisasi, atau bidang apa pun juga, Anda harus menarik pelajaran dari sebuah pelatihan kepemimpinan di Eropa. Teruskan membaca artikel ini.

Pemimpin Harus Siap Dikritik dan Dikecam

Kita mulai dengan berita dari dalam negeri. Berita pertama: rakyat selalu rindu dengan kunjungan orang penting, apalagi kunjungan presiden. Tapi beberapa hari lalu masyarakat Jogja demo menolak kunjungan presiden SBY. Bahkan bergiliran demo di depan tempat menginapnya di Jogja. Berita kedua: Jika Anda baca koran hari-hari terakhir ini, orang-orang tidak lagi menggunakan istilah "kepemimpinan nasional" yang lemah dan mementingkan pencitraan, tapi sudah langsung menyebut nama pak SBY. Berita ketiga: baru-baru ini Pak SBY mengeluh, sekitar 50% instruksinya tidak ditindak-lanjuti . Ramai-ramai orang mengomentarinya di koran, yang intinya: kesalahannya pada kepemimpinan pak SBY. Kasihan ... bapak presiden kita. Saya tidak akan ikut-ikutan mengomentari, tapi justru mau menarik pelajaran dari kasus ini. Ditambah pelajaran menarik dari luar negri, dari suatu pelatihan kepemimpinan yang menarik.

Kuda dilatihJika Anda Ingin Didengar dan Diikuti

Baru-baru ini seorang eksekutif wanita Indonesia (sebut saja namanya ibu Sisca) mengikuti pelatihan kepemimpinan di suatu tempat di Eropa. Pelatihan ini khusus untuk top eksekutif wanita, dan ia satu-satunya dari Indonesia diantara 23 peserta berbagai negara. Pada suatu sesi mereka diajak ke sebuah tempat pelatihan berkuda. Semua peserta tidak bisa berkuda, dan mereka bertanya-tanya apa yang akan dilakukan disini. Instruktur disana berkata, "Sebagai top eksekutif, kalian tentu terbiasa memimpin orang-orang." Kemudian ia bertanya kepada seorang peserta, "Menurut Anda, apa yang penting dalam kepemimpinan?" Peserta menjawab, "Trust!" "Baik, sekarang gunakan ‘trust' Anda untuk mengajak kuda ini berjalan mengelilingi lapangan ini." Peserta itu mendekati kuda yang sudah menantikannya. Ia mencoba mengelus-ngelus kuda itu, dan mengajaknya berjalan, tetapi kuda itu diam saja. Setelah mencoba sekitar 15 menit, kuda itu tetap tidak bergerak sedikit pun.

Instruktur kemudian bertanya kepada peserta berikutnya dengan pertanyaan yang sama. Ia menjawab, "Care!" "Baik, sekarang gunakan ‘care' Anda untuk mengajak kuda ini berjalan mengelilingi lapangan ini." Ia mendekati kuda itu, menyentuhnya dengan lemah lembut, dan mencoba mengajaknya berjalan. Kuda itu tidak bergerak. Ia mencoba dengan pecut, juga tidak berhasil. Dengan berbagai cara ia mencoba, kudanya tetap tidak bisa diajak melangkah. Para peserta mulai bertanya-tanya, jangan-jangan kuda itu memang sudah dilatih supaya tahan tidak bergerak!

Peserta ketiga...ibu Sisca kita. Atas pertanyaan instruktur, ia menjawab,"Communication!". Instruktur mempersilakan ia membuktikannya. Dengan hati sedikit berdebar, sambil berjalan mendekati kuda itu bu Sisca memikirkan apa yang akan dikatakan pada kuda itu. Ia mendekati kuda itu dari arah depan, mengusap kepalanya dan mencoba berbicara pada kuda itu dalam bahasa Inggris (karena itu kuda Eropa). Inilah inti yang dikatakannya (saya terjemahkan ke dalam bahasa manusia Indonesia untuk Anda).

"Kuda yang baik, saya adalah pemimpinmu. Kamu harus mendengarkan kata-kata saya. OK? Saya akan mengajak kamu berjalan mengelilingi lapangan ini. Kamu harus menuruti kata-kata saya. OK? Sekarang langkahkan kakimu dan berjalan bersama saya." Apa yang terjadi...??? Telinga kuda itu terangkat tegak dan bergoyang! Kemudian kakinya mulai melangkah mengikuti ibu Sisca yang menuntunnya. Semua peserta bersorak dan bertepuk tangan! Setengah lapangan, kuda itu berhenti, tidak mau berjalan. Instruktur bertanya kepada ibu Sisca apa yang terjadi. Ibu Sisca mengatakan tidak tahu. Setelah berhenti sejenak, ibu Sisca berbicara dan memberi instruksi lagi kepada kuda itu. Beberapa saat kemudian... kuda itu berjalan lagi, hingga selesai mengelilingi lapangan. Brilian! Seterusnya peserta lain mencoba melakukannya. Hingga selesai, hanya dua peserta yang berhasil mengajak kuda itu berjalan mengelilingi lapangan. Yang satunya lagi adalah eksekutif wanita dari salah satu negara Timur Tengah. Ia berbicara dengan kuda itu dalam bahasa...Arab!

Menarik? Belum selesai...ada satu lagi yang menarik, dan...yang satu ini lebih sulit!

horse jumping

Jika Situasi Bertambah Sulit

Ke 23 peserta  kemudian dibagi dalam enam kelompok, masing-masing empat orang, kecuali kelompok ibu Sisca yang hanya tiga orang. Kebetulan sekali, eksekutif wanita Arab tersebut satu kelompok dengan ibu Sisca. Tugas sekarang adalah menyuruh kuda tersebut berjalan dan melewati empat rintangan palang kayu. Untuk menambah tingkat kesulitan, letak rintangan mengharuskan kuda berjalan zig-zag dari rintangan yang satu ke lainnya. Sebagai permulaan mereka diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan teman satu kelompok tentang strategi dan cara yang akan dilakukan agar kuda itu mau berjalan dan melewati ke empat rintangan itu.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, mayoritas kelompok  menggunakan metode ‘komunikasi' untuk menggerakkan sang kuda. Masing-masing anggota kelompok berdiri pada setiap rintangan untuk memberikan instruksi atau semangat kepada kuda untuk melewatinya. Ketika permainan dimulai, peserta yang berjaga di rintangan pertama membujuk sang kuda untuk melangkah. Ketika belum berhasil, anggota lain ikut datang membantu. Semua kata-kata rayuan digunakan, mulai dari yang halus hingga yang rada keras. Tapi kudanya tetap diam, bahkan seperti kebingungan, karena yang memberikan instruksi lebih dari satu orang. Kelompok satu hingga lima tidak ada yang berhasil mengajak kuda itu untuk melewati rintangan, satu rintangan pun tidak!

Kelompok ibu Sisca menggunakan strategi yang berbeda. Mereka bertiga memberikan contoh kepada kuda itu, dengan bertingkah seperti kuda, berjalan dan melewati rintangan. Alhasil...? Kuda itu bergerak... dan mengikuti contoh yang mereka tunjukkan. Setelah berhasil melewati rintangan pertama, mereka mencontohkan melewati rintangan kedua dan seterusnya. Kuda itu mengikuti mereka. Bravo! 

 

Pelajaran yang bisa kita petik

 

  1. Untuk sukses memimpin, kita perlu cermat membaca situasi dan kreatif menggunakan kiat kepemimpinan yang tepat. Kiat yang berhasil di waktu lalu, belum tentu cocok di waktu sekarang. Menghadapi situasi dan orang yang berbeda, diperlukan strategi pendekatan yang berbeda pula.
  2. Kemampuan berkomunikasi itu penting. Instruksi harus disampaikan dengan jelas, dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami, hingga pelaksana di tingkat bawah pun mengerti dan tahu cara melaksanakannya. Jika ada hambatan dalam pelaksanaan, instruksi perlu diulang, diperjelas, dan tambahkan kata-kata motivasi sebagai penyemangat.
  3. Untuk mewujudkan misi yang penting dan sulit, sering kata-kata saja tidak cukup. Pemimpin harus berdiri di depan dan memberi contoh tentang bagaimana melakukannya dengan benar.
  4. Indonesia memiliki seorang pemimpin yang berbakat, ibu Sisca. Siapa tahu nanti bisa menjadi RI-1. Why not...???

Saya tutup HOT NEWS ini dengan kata-kata dari John C.Maxwell, seorang pakar kepemimpinan terkenal:

Anda bisa saja membuat orang lain kagum dari kejauhan,

namun Anda hanya dapat mempengaruhi mereka dari dekat.

 

Salam Brilian!

Jim Mintarja, Founder & Master Coach 'ACME International'

Artikel sebelumnya :

• Belajar dari Mandela
• Pergaulan Mengubah Diri Anda
• Bersikap Dewasa
• Integritas sebagai Cermin Diri Anda
• Hindari Jerat-Jerat Kehidupan
• Jangan Sia-Siakan Waktu Tersisa
• Bersiap Menghadapi Krisis 2011
• Bakat Saja Tidak Cukup
• Anda Layak menjadi Pemimpin?
• Anak Belajar dengan Kasih
• Memberdayakan Orang Terbaik
• Jangan Pusingkan UN
• Saatnya untuk Berani Memulai
• Dibalik Runtuhnya Japan Airline
• Kekuatan dari Kasih & Kebersamaan
• Karakter Lebih Penting daripada Reputasi
• Jalan Aman Menuju Sukses
• Belajar dari Orang Sukses
• Faktor Utama Menuju Sukses
• Anda Bisa Ikut Membangun Dunia yang Lebih Baik
• Kehidupan Sukses yang Seimbang
• Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship
• Menghadapi Seleksi Alam
• Solusi di Masa Krisis
• Menjadi Bangsa yang Semakin Dewasa
• Pikir dahulu keuntungan, sesal kemudian tak berguna…
• Kapan Krisis Berakhir?
• Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
• Berkompetisi dengan Sehat
• Menciptakan Peluang dari Badai Krisis
• Pengusaha yang tidak beretika
• Perusahaan mana yang paling aman untuk berkarir?
• Semangat Pantang Menyerah
• Bangsa yang Ingin Berubah
• Bangsa Berkarakter Unggul