:: Hot News

Anda Layak menjadi Pemimpin?
Posted On : 12-09-2010
View : 2298 times

Mementingkan Penampilan Luar

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dibuat "geram" dengan keinginan DPR membangun gedung baru senilai Rp1,6 triliun. Sudah kinerjanya buruk, yang dipikirkan  hanya kepentingan mereka sendiri. Menurut banyak kalangan,  alasan pembangunan gedung baru ini terlalu lemah dan dibuat-buat. Dikatakan, gedung lama sudah miring akibat gempa (menurut investigasi pihak berwenang, gedung ini aman untuk ditempati). Agar lebih termotivasi dan lebih berwibawa, mereka merasa perlu mempunyai ruang kerja yang besar, ruang tamu dan ruang rapat tersendiri, plus kamar istirahat (kualitas seseorang tidak ditentukan oleh kemewahan ruang kerjanya). Rencana pembangunan gedung baru sudah disediakan anggarannya (dalam situasi ekonomi yang sulit dan masih banyak rakyat yang hidup miskin, seharusnya mereka memikirkan penghematan, bukan pemborosan). Apalagi di lantai atas akan dibangun fasilitas rekreasi, kolam renang dan spa (mereka mungkin mengira bekerja sebagai CEO di perusahaan swasta, bukan wakil rakyat!). Karena protes keras dari masyarakat, ada sebagian anggota dewan "tersadar" dan mulai "protes" juga dengan rencana ini. Menurut berita terakhir, tinggal Partai Demokrat yang masih ngotot dengan rencana pembangunan gedung ini. Pihak pemerintah, yang mengelola negara ini, ambil sikap abstain, membiarkan rakyat sendiri berjuang "melawan" wakil-wakil mereka. Sungguh ironis!

 

Bankir yang Sederhana

Anda tentu pernah mendengar atau membaca tentang Muhammad Yunus, pendiri dan pimpinan Grameen Bank, yang mengembangkan konsep pinjaman mikro, khususnya untuk wanita miskin di Banglades, agar bisa membangun usaha mikro untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka. Karena keperduliannya kepada kaum miskin, tahun 2006 ia bersama Grameen Bank mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian. Grameen Bank yang didirikannya tahun 1976 hingga 2007 telah menyalurkan pinjaman USD 6,38 miliar kepada sekitar 7,4 juta peminjam. Keberhasilan Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya telah menginspirasi banyak negara (termasuk AS) untuk menerapkan model serupa  dalam usaha memerangi kemiskinan.

Sebagai bankir hebat, ia tidak bekerja di kantor mewah, juga tidak tinggal di rumah mewah. Di kantornya tidak ada AC, padahal suhu di Dhaka bisa mencapai 38 derajat Celcius, lebih panas daripada Jakarta. Meja kerjanya sama seperti meja kebanyakan orang Banglades, hanya sekitar satu meter persegi. Pakaiannya pun sangat sederhana, kemeja katun dengan rompi tradidional tenunan lokal. Berapa gajinya sebagai CEO bank? Per bulan USD 650 (sekitar Rp 6 juta). Itu pun masih dipotong USD 250 untuk sewa ruangan tinggalnya pada lantai dasar di kompleks kantornya. Ia tinggal disana agar bisa mengikuti secara dekat persoalan perusahaannya. Kendaraannya adalah sebuah mikrobus yang sudah dipakainya sejak 2002. Jenis mobil ini dipilihnya karena lebih efisien, bisa muat banyak orang. Ketika ditanya kapan ganti mobil, ia mengatakan belum berniat menggantinya sekalipun nanti sudah berusia 20 tahun. (Yunus mungkin mau bersaing dengan Ingvar Kamprad, pendiri dan pemilik toko furniture IKEA yang masih menggunakan Volvo 240 GL tahun 1993. Ia juga masih sering naik kereta di Swedia. Jika naik pesawat selalu di economy class. Padahal ia adalah orang nomor 11 terkaya di dunia!)

 

Memimpin melalui Keteladanan

Muhamad Yunus berkarya untuk menghapus kemiskinan bukan dengan retorika, tapi dengan karya nyata. Ia memberikan keteladanan dengan hidup sederhana, yang diikuti oleh para karyawannya. Citra dirinya adalah kualitas diri dan karyanya, bukan pada pakaian, kendaraan dan ruang kerjanya. Ia seorang pemimpin sejati.

Hampir semua orang bercita-cita menjadi pemimpin. Entah sebagai RI-1, presiden direktur, direktur, kepala divisi, kepala departemen, atau kepala seksi. Fungsi seorang pemimpin adalah menggerakkan orang-orang untuk bersama-sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Cara termudah menggerakkan orang adalah melalui keteladanan. Namun, justru keteladanan inilah bagian tersulit. Kebanyakan orang yang menganggap dirinya "boss" lebih suka (karena jauh lebih mudah) memimpin dengan kata-kata, bukan dengan perbuatan yang layak dicontoh. Orang bijak mengajarkan, "Kamu akan diingat karena perbuatanmu, bukan kata-katamu." Bagaimana dengan Anda?

 

Salam Brilian!

Jim Mintarja, Founder & Master Coach 'ACME International'

 

 

Artikel sebelumnya :

• Belajar dari Mandela
• Pergaulan Mengubah Diri Anda
• Bersikap Dewasa
• Integritas sebagai Cermin Diri Anda
• Jika Bisa Memimpin Kuda, Anda Bisa Memimpin Orang
• Hindari Jerat-Jerat Kehidupan
• Jangan Sia-Siakan Waktu Tersisa
• Bersiap Menghadapi Krisis 2011
• Bakat Saja Tidak Cukup
• Anak Belajar dengan Kasih
• Memberdayakan Orang Terbaik
• Jangan Pusingkan UN
• Saatnya untuk Berani Memulai
• Dibalik Runtuhnya Japan Airline
• Kekuatan dari Kasih & Kebersamaan
• Karakter Lebih Penting daripada Reputasi
• Jalan Aman Menuju Sukses
• Belajar dari Orang Sukses
• Faktor Utama Menuju Sukses
• Anda Bisa Ikut Membangun Dunia yang Lebih Baik
• Kehidupan Sukses yang Seimbang
• Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship
• Menghadapi Seleksi Alam
• Solusi di Masa Krisis
• Menjadi Bangsa yang Semakin Dewasa
• Pikir dahulu keuntungan, sesal kemudian tak berguna…
• Kapan Krisis Berakhir?
• Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
• Berkompetisi dengan Sehat
• Menciptakan Peluang dari Badai Krisis
• Pengusaha yang tidak beretika
• Perusahaan mana yang paling aman untuk berkarir?
• Semangat Pantang Menyerah
• Bangsa yang Ingin Berubah
• Bangsa Berkarakter Unggul