:: Hot News

Anak Belajar dengan Kasih
Posted On : 26-07-2010
View : 2270 times

Hari Anak

Topik Hot News kita kali ini lain dari biasanya, subyeknya adalah anak. Saya menampilkannya karena dua alasan. Pertama, 23 Juli kemarin adalah Hari Anak Nasional  (sedangkan Hari Anak Sedunia jatuh pada 20 November). Dalam lingkup nasional, peringatan HAN dipusatkan di Taman Mini Indonesia Indah, dihadiri Presiden SBY beserta ibu dan sejumlah menteri. Tema tahun ini adalah "Anak Indonesia Belajar untuk Masa Depan", dengan sub tema " Kami Anak Indonesia, Jujur, Berakhlak Mulia, Sehat, Cerdas dan Berprestasi". Tema yang sungguh cocok dengan situasi sekarang. Kedua, saya sedang "road show" membawakan seminar "Mendidik dengan Kasih" untuk para pendidik dari TK hingga SMA di sekolah-sekolah dari sebuah yayasan pendidikan yang berdiri sejak 1954. Saya sangat menyukainya, karena melalui acara ini saya belajar dan semakin menyadari bahwa kehidupan seseorang pada usia dewasa sangat dipengaruhi oleh pembelajarannya ketika masih belia.

Sangat mungkin banyak orangtua (termasuk saya, sebelumnya) yang tidak tahu HAN sudah diperingati sejak 1986. Keputusan Presiden RI pada tahun 1984 tentang HAN memiliki tujuan yang mulia, yaitu untuk menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh masyarakat untuk menghormati  dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi, memberikan yang terbaik bagi anak, menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak, serta menghargai pendapat anak. Mengapa PBB dan pemerintah perlu campur tangan memperjuangkan hak anak-anak?  Bukankah itu merupakan urusan orangtua masing-masing?

Ini anak siapa?

Ada yang menganggap anak adalah miliknya, karena ia adalah ayah/ibu yang melahirkannya dan membesarkannya. Ada juga yang mengatakan, anak adalah milik Tuhan yang dititipkan kepada kita. Mana yang benar? Manusia belum (tidak pernah) bisa menciptakan manusia. Manusia baru bisa membuat robot. Sekali pun nanti berhasil kloning manusia, itu tidak lebih dari hasil  "fotocopy", bukan karya penciptaan.  Pencipta karyalah pemilik asli, bukan orang yang mempunyai mesin fotocopy. Betapa ajaibnya manusia, dari sebuah sel sebesar satu centimeter persegi dibagi satu juta(!), dalam waktu sekitar 40 minggu menjadi bayi yang mungil. Manusia mana bisa melakukan mahakarya ini. Tuhan melibatkan manusia dewasa untuk proses penciptaan manusia baru. Buah mangga memang berbuah dari pohon mangga. Pemilik buah mangga adalah si pemilik pohon, bukan pohon itu.

Setiap karya diciptakan dengan tujuan tertentu oleh sang penciptanya. Demikian pun dengan manusia, Tuhan menciptakan setiap orang sesuai tujuanNYA. Masing-masing sudah direncanakan untuk menjalankan peran yang berbeda. Ada yang menjadi petani, peternak, pebisnis, guru, pembimbing, ahli tehnik, atlit, penyanyi, musisi, pelukis, dokter,  dan sebagainya. Untuk itu masing-masing telah dilengkapiNYA dengan talenta untuk menjalankan misi yang ditugaskanNYA. Manusia juga dilengkapi dengan akal budi untuk mengenal kehendakNYA. Setiap agama mengajarkan untuk mencintai Tuhan melebihi apapun, karena DIA lah pemberi kehidupan. Dan mencintai sesama manusia, karena sama-sama ciptaanNYA. Kita tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan yang tidak kelihatan, jika kita tidak bisa mencintai sesama ciptaan Tuhan yang kelihatan.

Tetapi bagaimana seorang anak kelak bisa mencintai sesama, jika sejak kecil ia tidak pernah dicintai?

Anak adalah milik Tuhan. Seperti ketika dulu kita dititipkan kepada orangtua kita, kita pun dititipkan untuk membesarkan dan membimbing anak-anak kita menurut keinginanNYA, bukan menurut keinginan kita. Sungguh menyedihkan masih banyak anak yang dibesarkan bukan dengan kasih sayang, tetapi dengan kekerasan. Bukan dengan pujian, tetapi dengan kecaman. Bukan dalam rasa aman, tetapi ketakutan. Masih banyak orang tua yang membesarkan anak milik Tuhan dengan caranya, bukan cara yang diinginkanNYA. Karena ketidak-berdayaan anak-anak untuk membela haknya yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, maka negara dengan Keppres No. 44 tahun 1984 dan PBB dalam deklarasi tahun 1954 mengingatkan kita semua akan hak-hak seorang anak untuk mendapatkan perawatan, pendidikan dan bimbingan (dari orang tua, pendidik dan masyarakat) agar kelak bisa menjadi manusia yang menjadi tujuan penciptaan Allah.

Anak-Anak Belajar dari Kehidupannya

Kata-kata diatas adalah terjemahan judul puisi yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte (1924-2005), seorang wanita AS yang berprofesi sebagai pendidik , konsuler 'parenting', penulis dan  terapis. Puisi yang pertama kali dimuat 1954 pada The Torrance Herald, sebuah surat kabar mingguan di selatan California, telah menggugah begitu banyak orangtua dan pendidik hingga hari ini. Ia juga telah menulis sebuah buku dengan judul yang sama. Semoga kita bisa mendapatkan inspirasi tentang cara membesarkan anak dari Dorothy. Baca dengan perlahan dan renungkan kata-katanya...

Jika seorang anak dibesarkan  dengan kritik,
ia belajar untuk menyalahkan ...
Jika seorang anak dibesarkan  dengan  kekerasan,
ia belajar untuk berkelahi ...
Jika seorang anak dibesarkan dengan ketakutan,
ia belajar untuk gelisah ...

Jika seorang anak dibesarkan dengan belas kasihan,
ia belajar untuk memaafkan dirinya sendiri ...
Jika seorang anak dibesarkan dengan ejekan,
ia belajar menjadi pemalu ...
Jika seorang anak dibesarkan dengan kecemburuan,
ia belajar untuk iri hati ...

Tetapi ...

Jika seorang anak dibesarkan dengan toleransi,
ia belajar untuk sabar ...
Jika seorang anak dibesarkan dengan semangat besar,
ia belajar untuk percaya diri ...
Jika seorang anak dibesarkan dengan pujian,
ia belajar untuk menghargai ...
Jika seorang anak dibesarkan dengan diterima apa adanya,
ia belajar untuk mencintai ...

Jika seorang anak dibesarkan dengan kejujuran,
ia belajar mengenai kebenaran  ...
Jika seorang anak dibesarkan dengan kewajaran,
ia belajar mengenai keadilan ...
Jika seorang anak dibesarkan dengan suasana aman,
 ia belajar untuk percaya diri dan mempercayai ...
Jika seorang anak dibesarkan dengan keramah-tamahan,
ia belajar bahwa dunia ini adalah suatu tempat yang indah untuk hidup.

Salam Brilian untuk seluruh anak Indonesia.

Jim Mintarja, Founder & Master Coach 'ACME International'

Artikel sebelumnya :

• Belajar dari Mandela
• Pergaulan Mengubah Diri Anda
• Bersikap Dewasa
• Integritas sebagai Cermin Diri Anda
• Jika Bisa Memimpin Kuda, Anda Bisa Memimpin Orang
• Hindari Jerat-Jerat Kehidupan
• Jangan Sia-Siakan Waktu Tersisa
• Bersiap Menghadapi Krisis 2011
• Bakat Saja Tidak Cukup
• Anda Layak menjadi Pemimpin?
• Memberdayakan Orang Terbaik
• Jangan Pusingkan UN
• Saatnya untuk Berani Memulai
• Dibalik Runtuhnya Japan Airline
• Kekuatan dari Kasih & Kebersamaan
• Karakter Lebih Penting daripada Reputasi
• Jalan Aman Menuju Sukses
• Belajar dari Orang Sukses
• Faktor Utama Menuju Sukses
• Anda Bisa Ikut Membangun Dunia yang Lebih Baik
• Kehidupan Sukses yang Seimbang
• Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship
• Menghadapi Seleksi Alam
• Solusi di Masa Krisis
• Menjadi Bangsa yang Semakin Dewasa
• Pikir dahulu keuntungan, sesal kemudian tak berguna…
• Kapan Krisis Berakhir?
• Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
• Berkompetisi dengan Sehat
• Menciptakan Peluang dari Badai Krisis
• Pengusaha yang tidak beretika
• Perusahaan mana yang paling aman untuk berkarir?
• Semangat Pantang Menyerah
• Bangsa yang Ingin Berubah
• Bangsa Berkarakter Unggul