:: Hot News

Kekuatan dari Kasih & Kebersamaan
Posted On : 23-01-2010
View : 2330 times

Musibah di Haiti

Gempa di Haiti baru-baru ini telah menewaskan lebih dari 200.000 orang.  Ibukota negara berpenduduk 10 juta orang ini, Port au Prince, hancur berantakan, sehingga presidennya terpaksa harus berkantor di barak kepolisian.

Musibah yang dialami negara termiskin di dunia bagian barat ini mendapat simpati dari dunia. Selain mengirimkan bantuan pasukannya, Presiden Barack Obama juga meminta bantuan dari mantan2 presiden AS untuk menggalang bantuan masyarakat. Pasangan Hollywood Brad Pitt dan Angelina Jolie melalui yayasannya menyumbangkan US$ 1 juta. Aktor John Travolta akan memberi bantuan berupa transportasi pesawat terbang untuk mengangkut tim dokter, relawan dan makanan serta obat-obatan. Pemerintah Indonesia juga telah mengirim bantuan berupa 30 tenaga medis, satu set rumah sakit lapangan, 3 ton obat-obatan, dan 5 ton makanan bayi.

Dan yang sangat mengharukan, menurut Euronews, rakyat Palestina yang tinggal di wilayah Gaza, salah satu wilayah paling miskin di dunia dan sangat susah kehidupannya, juga tidak mau ketinggalan membantu rakyat Haiti. Melalui Palang Merah Internasional mereka menyumbangkan uang, mainan untuk anak-anak, bahan kebutuhan sehari-hari dan manisan. Padahal mereka sendiri sangat membutuhkannya. Dunia tergugah membantu Haiti.

Koin untuk Prita

Beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia berhasil mengumpulkan Rp 810.940.404 melalui gerakan spontanitas masyarakat "Koin untuk Prita", untuk membantu Prita Mulyasari yang dihukum pengadilan untuk membayar kerugian Rp 204.000.000 kepada RS Omni dengan tuduhan mencemarkan nama rumah sakit tersebut melalui e-mail. Melihat "people power" ini, RS Omni membatalkan tuntutan ganti rugi ini. Prita menyatakan, uang masyarakat ini akan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Sikap yang Merugikan

Akhir-akhir ini bangsa kita menghabiskan banyak waktu dan energi untuk hal-hal yang kontra produktif. Kericuhan yang terjadi pada banyak Pilkada, kasus "cicak-buaya" dan kasus Bank Century, membuat pemerintahan kita tidak efektif, melemahkan bangsa kita.

Jika kita renungkan... percekcokan, perpecahan dan ketidak-nyamanan, bersumber pada sikap kita yang mementingkan diri sendiri. Segala sesuatu kita nilai untung-rugi bagi diri kita atau kelompok kita. Jika memperoleh lebih banyak keuntungan, kita setuju. Jika orang lain yang memperoleh lebih banyak, kita tolak. Tidak ada yang mau mengalah. Mengalah berarti kelemahan. Sikap yang demikian ada di masyarakat, instansi, lembaga negara, perusahaan, bahkan juga dalam keluarga. Dengan sikap yang demikian, kualitas kehidupan di semua bidang mengalami kemunduran. Bahkan bisa menuju pada kehancuran.

Membangun Kasih dan Kebersamaan untuk Kemajuan

Belajar dari kasus Prita dan gempa di Haiti (dan juga pembangunan kembali Aceh dan Nias pasca tsunami dengan bantuan masyarakat dunia), dengan kasih dan semangat kebersamaan memungkinkan masalah yang besar dan sulit bisa diatasi.

Apakah kita hanya tersentuh dan mau berbagi kasih hanya jika sudah terjadi musibah? Seharusnya tidak! Kita bisa melakukannya dalam situasi apapun jika kita memiliki sikap yang tidak mementingkan diri sendiri, melainkan mementingkan orang lain terlebih dulu. Bukankah kita diajarkan, "Perbuatlah kepada orang lain hal-hal yang kita ingin orang lain perbuat kepada kita". Ini mengajarkan kepada kita untuk memulai dulu 'memberi' kepada orang lain, bukan sebaliknya. Kita bisa memulainya dengan hal-hal kecil, yang tidak akan membuat kita rugi jika memberinya terlebih dulu.

Di dalam keluarga, kita bisa memulai hari kita dengan mengucapkan "Selamat pagi!" kepada pasangan dan anak kita, atau orangtua kita. Di perusahaan, sebagai pemilik atau atasan kita tidak hanya menuntut dari bawahan untuk mencapai sasaran perusahaan (baca: kepentingan pemilik/atasan), tetapi juga mau membantu karyawan mewujudkan sasaran-sasaran pribadi mereka. Sebagai karyawan, kita juga bukan menuntut dulu hak-hak dan fasilitas dari perusahaan, prestasi belakangan. Jika saja para pejabat negara mau mendahulukan kepentingan masyarakat dan negara (sesuai dengan tanggungjawab dan tugas mereka), maka bangsa kita bisa jauh lebih maju dari sekarang.

Jika terhadap penderitaan dan musibah orang lain yang tidak dikenal secara pribadi kita bisa tergugah dan ingin menolong (memberi), mengapa kita tidak menggunakan sikap baik itu untuk mengasihi dan saling memberi dengan orang-orang di dekat kita: pasangan hidup kita, anggota keluarga kita, atasan, rekan atau bawahan kita, teman-teman kita?  Yes, We can!

Salam Brilian!

Jim Mintarja, Founder & Master Coach 'ACME International'

 

Artikel sebelumnya :

• Belajar dari Mandela
• Pergaulan Mengubah Diri Anda
• Bersikap Dewasa
• Integritas sebagai Cermin Diri Anda
• Jika Bisa Memimpin Kuda, Anda Bisa Memimpin Orang
• Hindari Jerat-Jerat Kehidupan
• Jangan Sia-Siakan Waktu Tersisa
• Bersiap Menghadapi Krisis 2011
• Bakat Saja Tidak Cukup
• Anda Layak menjadi Pemimpin?
• Anak Belajar dengan Kasih
• Memberdayakan Orang Terbaik
• Jangan Pusingkan UN
• Saatnya untuk Berani Memulai
• Dibalik Runtuhnya Japan Airline
• Karakter Lebih Penting daripada Reputasi
• Jalan Aman Menuju Sukses
• Belajar dari Orang Sukses
• Faktor Utama Menuju Sukses
• Anda Bisa Ikut Membangun Dunia yang Lebih Baik
• Kehidupan Sukses yang Seimbang
• Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship
• Menghadapi Seleksi Alam
• Solusi di Masa Krisis
• Menjadi Bangsa yang Semakin Dewasa
• Pikir dahulu keuntungan, sesal kemudian tak berguna…
• Kapan Krisis Berakhir?
• Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
• Berkompetisi dengan Sehat
• Menciptakan Peluang dari Badai Krisis
• Pengusaha yang tidak beretika
• Perusahaan mana yang paling aman untuk berkarir?
• Semangat Pantang Menyerah
• Bangsa yang Ingin Berubah
• Bangsa Berkarakter Unggul