:: Hot News

Pikir dahulu keuntungan, sesal kemudian tak berguna…
Posted On : 04-01-2009
View : 1610 times

Sektor keuangan AS kembali diguncang dengan sebuah skandal besar yang meminta "korban"  bank-bank internasional, yayasan dan investor pribadi.

Bernard Madoff, investor terkenal dan tokoh keuangan yang dihormati, mantan Ketua Nasdaq, (bursa untuk perusahaan-perusahaan berbasis teknologi), saat ini harus berurusan dengan pihak berwajib di AS karena dana investasi yang dikelolanya "menguap", jumlahnya luar biasa... USD 50 milyar, lebih besar daripada cadangan devisa Indonesia!

Korbannya antara lain Royal Bank of Scotland, HSBC Holdings (Inggris), Nomura Holdings (Jepang), Grupo Santander SA (Spanyol), BNP Paribas (Perancis), juga yayasan milik Elie Wiesel (peraih Hadiah Nobel), yayasan milik Steven Spielberg (sutradara terkenal AS), kalangan artis dan masih banyak orang-orang kaya lainnya. Seorang Fund Manager telah bunuh diri karena stress memikirkan pertanggunganjawab uang para nasabahnya USD 2,5 milyar yang diinvestasikan di Madoff Investment Securities.

Kenapa orang mudah tertipu?

Perusahaan Madoff mampu memberikan keuntungan investasi yang menarik. Banyak yang percaya dan tertarik karena Bernard Madoff mempunyai nama besar di bisnis keuangan. Bahkan lembaga keuangan dengan reputasi dunia yang biasanya sangat hati-hati pun tertarik. Namun, reputasi ternyata hanya kulit luar, Bernard Madoff ternyata manusia rakus. Apa yang dilakukan oleh Madoff sebenarnya sudah "kuno" di Indonesia (jangan-jangan... ia belajar dari Indonesia!!!).  Di tahun 90-an,  dirikan perusahaan apa saja, janjikan keuntungan yang menggiurkan bagi penyetor modal, pasti banyak yang tertarik, bahkan pejabat-pejabat tinggi dan orang-orang kaya pun tertarik. Bahkan seringkali mereka ikut memberikan testimoni yang semakin menarik anggota masyarakat lain untuk ikut membiayai perusahaan-perusahaan yang "hebat" itu! Pada awalnya perusahaan memang mampu memberikan keuntungan yang menarik, karena yang dibagikan sebagai "keuntungan" itu adalah uang setoran dari investor yang masuk belakangan, bukan keuntungan nyata dari operasional perusahaan itu.

Beberapa tahun lalu di Indonesia juga ada perusahaan global yang katanya "berbisnis di pertambangan emas", mampu memberikan kepada pendapatan tetap dalam US Dollar sebesar 1,5% per bulan (18% per tahun) tanpa potong pajak, padahal pada saat itu bunga deposito rupiah hanya 7-8% dan deposito US dollar 3-4% (sebelum pajak). Saya sudah mewanti-wanti beberapa teman bahwa ini "too good to be true". Ternyata benar... pada pertengahan 2007 perusahaan ini tidak mampu lagi membayar bunga, dan uang investornya lenyap. Tinggallah manajer-manajer Indonesianya yang harus berurusan dengan pihak berwajib, sementara boss-boss asingnya sudah kabur duluan!

Biasanya setelah kejadian, kita baru menyadari bahwa memang "kurang masuk akal" perusahaan ini bisa membagi-bagi keuntungan yang besar. Kalau keuntungan yang dia bagikan saja begitu besar, tentu yang dinikmatinya sendiri lebih besar lagi.  Apa memang benar perusahaan ini sebegitu "brillian" sehingga bisa meraup laba jauh lebih besar daripada perusahaan-perusahaan lain yang sejenis, yang sudah lebih dulu eksis dan lebih berpengalaman? Nasi sudah jadi bubur... Pikir dahulu keuntungan besar, menyesal kemudian sudah tak berguna.

Ingin jadi investor, berani bersiap kehilangan uang...

Menjadi investor memang sepertinya menyenangkan. Ada yang mengatakan, bahwa Anda berada di kuadran dimana bukan lagi bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi uang bekerja untuk Anda. Uang Anda bertambah terus tanpa harus bekerja lagi! Atau istilah lainnya, "Anda memiliki peternakan uang!"

Pada jaman sekarang, "ahli-ahli" keuangan sangat kreatif menciptakan "produk-produk keuangan inovatif". Anda juga mungkin tidak tahu siapa sebetulnya yang mengelola uang Anda menjadi "peternakan uang", karena uang Anda pindah dari tangan ke tangan. Penasihat keuangan Anda sendiri pun tidak memahaminya. Ia hanya tahu, jika Anda membeli, maka dia mendapat bonus!

Jika Anda menginvestasikan uang (diluar menabung, deposito dan obligasi yang dijamin pemerintah), berarti Anda menyerahkan uang Anda ke pihak lain untuk dikelola, dan Anda tidak memiliki kendali lagi atas uang Anda.  Anda baru 'balik modal' jika uang investasi Anda sudah kembali sepenuhnya. Selama modal Anda belum kembali, yang Anda terima sebenarnya baru "angsuran" dari uang Anda sendiri, bukan keuntungan yang nyata! Anda baru benar-benar menikmati keuntungan jika masih tetap menerima pendapatan setelah kembalinya modal investasi.

Berinvestasilah secara bijaksana, jangan tergiur dengan pendapatan yang besar. Gunakan akal sehat, jangan terbujuk rayuan, sekalipun yang menyarankan adalah orang pintar, berpengalaman dan layak untuk dipercaya. Semakin besar pendapatan, semakin besar resiko yang Anda harus tanggung. Itu sudah hukum alam!

(Jim Mintarja - Founder & Master Coach of ACME Success International)

Artikel sebelumnya :

• Belajar dari Mandela
• Pergaulan Mengubah Diri Anda
• Bersikap Dewasa
• Integritas sebagai Cermin Diri Anda
• Jika Bisa Memimpin Kuda, Anda Bisa Memimpin Orang
• Hindari Jerat-Jerat Kehidupan
• Jangan Sia-Siakan Waktu Tersisa
• Bersiap Menghadapi Krisis 2011
• Bakat Saja Tidak Cukup
• Anda Layak menjadi Pemimpin?
• Anak Belajar dengan Kasih
• Memberdayakan Orang Terbaik
• Jangan Pusingkan UN
• Saatnya untuk Berani Memulai
• Dibalik Runtuhnya Japan Airline
• Kekuatan dari Kasih & Kebersamaan
• Karakter Lebih Penting daripada Reputasi
• Jalan Aman Menuju Sukses
• Belajar dari Orang Sukses
• Faktor Utama Menuju Sukses
• Anda Bisa Ikut Membangun Dunia yang Lebih Baik
• Kehidupan Sukses yang Seimbang
• Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship
• Menghadapi Seleksi Alam
• Solusi di Masa Krisis
• Menjadi Bangsa yang Semakin Dewasa
• Kapan Krisis Berakhir?
• Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
• Berkompetisi dengan Sehat
• Menciptakan Peluang dari Badai Krisis
• Pengusaha yang tidak beretika
• Perusahaan mana yang paling aman untuk berkarir?
• Semangat Pantang Menyerah
• Bangsa yang Ingin Berubah
• Bangsa Berkarakter Unggul