:: Hot News

Bangsa yang Ingin Berubah
Posted On : 06-08-2008
View : 2353 times

Wartawan Kompas, A Tomy Trinugroho, menulis headline ‘China Mengulang Sejarah' di koran Kompas, Minggu 3 Agustus 2008. China menjadi tuan rumah peristiwa olahraga terbesar di dunia, Olympiade Beijing yang dimulai pada tanggal 08-08-08. Peristiwa besar sebelumnya adalah peresmian ‘Kota Terlarang' yang spektakuler pada perayaan Tahun Baru Tionghoa 1421 (870 SM), dengan mengundang raja dan duta besar dari Asia, Afrika, dan negara-negara kawasan Samudra Hindia.

Ingin menjadi lebih baik

Tiongkok (orang Inggris menyebutnya 'China') ingin menjadikan dirinya sebagai tuan rumah Olympiade yang baik yang akan dikenang sepanjang masa. Tiongkok ingin menggunakan kesempatan ini untuk memamerkan ke seluruh dunia kemajuan yang telah mereka capai sebagai sebuah bangsa, bukan hanya di bidang olahraga, tetapi juga politik, ekonomi dan sosial.

Pemerintah Tiongkok mengucurkan 40 miliar dolar AS untuk membangun infrastruktur baru. Untuk mewujudkan janji mereka menggelar Olimpiade yang 'hijau', disediakan 13 miliar dolar AS untuk memperbaiki kualitas lingkungan Beijing yang merupakan salah satu kota berpolusi tinggi di dunia. Khusus untuk membangun 3.700 toilet baru di seluruh Beijing dikeluarkan biaya 40 juta dolar AS. Dengan semua pengeluaran ini, Olimpiade Beijing adalah olimpiade termahal.

Untuk menjadi tuan rumah yang baik, Tiongkok tidak hanya melakukan pembangunan fisik saja, tetapi juga berusaha mengubah kebiasaan "kampungan" warga Beijing. Pemerintah Tiongkok mengedarkan 4,3 juta buku panduan mengenai tata krama bagi warga Beijing. Diantaranya: jangan berpakaian norak dengan lebih dari tiga warna, jangan berkaus kaki putih dengan sepatu hitam, tidak boleh memakai piyama di tempat umum, denda 50 yuan (sekitar Rp50.000) bagi warga yang meludah di tempat umum. Bagi warga yang akan masuk ke lift, berikan kesempatan kepada orang yang berada di dalam untuk keluar terlebih dahulu.

Wartawan Kompas lainnya, Abun Sanda, pada 5 Pebuari 2008 juga melaporkan usaha pemerintah Tiongkok mengubah kebiasaan buruk masyarakat Tiongkok yang suka meludah sembarangan. Suatu waktu di Shanghai, terdengar dua polisi yang membentak dua pemuda tampan, "Anda tidak beradab, meludah sembarangan. Wajahmu saja yang bagus, kelakuanmu buruk!". Dua pemuda itu pucat dan bergegas pergi.

Masa Suram

Ada suatu anekdot di tahun 60-an, ketika cukup banyak orang Tionghoa di Indonesia yang kembali ke daratan Tiongkok. Saudara-saudaranya yang masih di Indonesia berpesan, beri kabar kepada kami mengenai kehidupan kalian disana. Berhubung ketatnya sensor pemerintah Tiongkok Komunis atas surat-surat yang dikirim keluar negri, maka mereka memutuskan menggunakan foto: "Jika kehidupan baik, kami berpose dengan posisi duduk; jika biasa-biasa saja, posisi berdiri; jika hidup susah, berpose jongkok." Setahun kemudian saudara-saudaranya di Indonesia menerima foto mereka dalam pose ... tiarap!

Dalam sejarah, Tiongkok adalah negara besar. Sejarah mereka sudah dimulai sejak 6000 tahun lalu, ketika bangsa-bangsa Eropa masih primitif. Budaya, agama dan aksara mereka diadopsi oleh bangsa Jepang, Korea dan Vietnam. Namun intrik-intrik kekuasaan di lingkungan istana dan korupsi yang merajarela telah menghancurkan bangsa ini, sehingga Tiongkok bisa dikuasai oleh bangsa Mongol (dinasti Yuan, tahun 1279-1368), dan bangsa Manchuria (dinasti Qing, tahun 1644-1912), dan oleh Jepang di tahun 1930-an. Perang saudara antara kelompok Komunis dan Nasionalis diakhiri dengan mengungsinya rejim Chiang Kai Sek ke pulau Formosa (Taiwan).

Ketika kelompok Nasionalis sedang giat membangun di Taiwan (saat ini Taiwan dengan penduduk 23 juta telah menjadi sebuah negara maju dengan cadangan devisa USD 273 milyar, ranking no.5 di dunia), intrik politik rejim komunis Tiongkok melahirkan 'Revolusi Kebudayaan' yang dipimpin istri Mao Zedong untuk menghancurkan semua orang yang dianggap tidak sepaham dengan ajaran Mao. Revolusi berdarah ini berlangsung antara 1966 hingga 1976, dan negara Tiongkok benar-benar tertutup untuk luar. Setelah kematian Mao di tahun 1976, beberapa tokoh mulai menyingkirkan tokoh-tokoh Revolusi Kebudayaan dan membangun kembali Tiongkok. Deng Xiaoping yang nyaris menjadi korban Revolusi Kebudayaan mulai menetapkan arah pembangunan Tiongkok, dan membuka hubungan dengan dunia luar, sehingga pada tahun 1978 majalah TIME menjulukinya 'Man of the Year'.

Tiongkok yang Sukses

Sukses Ekonomi. Saat ini Tiongkok menjadi negara yang sangat kuat ekonominya. Dari cadangan devisa 2,3 milyar dolar Amerika di tahun 1977 (Kompas, 5 Pebuari 2008), kini telah menjadi 1,8 triliun dolar Amerika, rangking No.1 di dunia, jauh meninggalkan ranking No.2 Jepang yang memiliki 1,0 triliun dolar Amerika (Indonesia berada di ranking no.25 dengan 59 milyar dolar Amerika). Mereka kini menghasilkan 8% dari total produk manufakturing dunia. Produsen baja terbesar dengan 422 juta metric ton, sedangkan Jepang di ranking no.2 dengan 116 juta ton. Negara yang dulu kota-kotanya dipenuhi sepeda, kini adalah produsen mobil terbesar no.3 di dunia dengan 8,8 juta unit, di belakang Jepang dan AS. Prestasi spektakuler bangsa ini di bidang ekonomi akan terlalu panjang untuk ditulis disini. Di belahan dunia manapun saat ini hampir dipastikan ada produk 'made in China'. Semakin banyak orang kaya bermunculan di Tiongkok.

Prestasi Olahraga. Sebagai tuan rumah Olympiade, mereka kali ini berkesempatan menduduki ranking no.1, setelah pada Olympiade 2004 menduduki ranking no.2, tahun 2000 ranking no.3, tahun 1996 ranking no.4.

Perubahan Kebiasaan. Bagi orang-orang yang berkunjung ke Tiongkok 4-5 tahun sekali, pasti akan merasakan perubahan besar di negara ini. Bukan saja pembangunan fisik yang maju pesat, tapi juga tata krama dan ketertiban manusianya di perkotaan juga semakin baik, setelah sekian puluh tahun dicekoki paham "sama rata sama rasa" (baca: sama-sama miskin). Di akhir 2006 ketika saya naik mobil teman di Guangzhou, petugas-petugas gerbang tol dengan ramah menyapa "selamat pagi/siang, apa kabar"; setelah kita membayar, mereka mengucapkan "selamat jalan". Luar biasa! Di banyak tempat masyarakat sudah mulai mengerti 'antrian'. Ketika menghadiri pameran di kota itu pada tahun 2002, masih sebagian pebisnis yang berpameran berlaku judes. Di akhir tahun 2006 tempat pamerannya empat kali lebih besar, semua pebisnis yang saya temui sangat ramah, dan banyak yang berbahasa Inggris dengan bagus. Petugas di restoran dan hotel juga ramah. Bangsa ini memang sudah berubah, dan ... masih berubah, kearah makin sukses.

Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari cuplikan peristiwa bangsa Tiongkok masa lalu dan sukses mereka saat ini?

Kehancuran karena intrik politik dan korupsi
Intrik-intrik politik di kalangan istana dan korupsi para pejabat telah menghancurkan kekaisaran Tiongkok masa lalu. Revolusi Kebudayaan yang dilancarkan 'the gang of four' pimpinan istri Mao membawa bangsa ini pada kehancuran.

Ingin maju harus makin tertib dan disiplin
Pemerintah Tiongkok berusaha mendidik masyarakatnya makin tertib dan disiplin. Memang tidak mudah, tapi hasilnya mulai kelihatan. Ketika PM Lee Kuan Yew berhasil mendisplinkan masyarakat Singapura, banyak orang Indonesia berkata, "Singapura hanya berpenduduk 3 juta, sedangkan kita 200 juta." Pemerintah Tiongkok dengan penduduknya yang 1,3 milyar tidak banyak berdalih, mereka berusaha mencari solusi dan bertindak.

Budaya positif yang membentuk karakter bangsa
Ada beberapa budaya positif yang membentuk karakter bangsa Tiongkok, yang merupakan modal menuju sukses, antara lain:

Kewirausahaan (entrepreneurship). Bangsa Tiongkok memang memiliki jiwa 'entrepreneurship' sejak jaman dulu, mempunyai riwayat bisnis yang panjang. Merekalah penemu kertas, sutera, kompas, mesiu, petasan, pencetakan, keramik, baja, pompa air, sempoa, dan masih banyak lagi. Jalur perdagangan di Asia yang paling terkenal di jaman dahulu 'Jalan Sutera' (Silk Road) dirintis oleh Dinasti Han pada tahun 114 SM terbentang dari Tiongkok ke Persia, India, Arab, Mesir, dan melalui laut hingga ke Eropa Selatan dan pulau Jawa, dengan total sekitar 8000 km.

Di jaman modern, mereka berhasil membuat bom atom pada tahun 1964, dan meluncurkan peluru kendali nuklir di tahun 1966. Tahun 1970 mereka berhasil mengirimkan satelit ke ruang angkasa dengan roket. Mesin dan produk 'made in China' sudah dikenal di Indonesia sejak 1950an, modelnya sederhana tetapi kualitasnya lumayan, tahan lama. Saat ini mereka dengan cepat bisa meniru produk bangsa lain, dan mampu membuatnya dengan baik, dengan harga jauh lebih murah. Jika Anda ingin barang berkualitas tinggi mereka bisa buatkan; mau yang murah-meriah, mereka juga layani.

Kerja keras. Jumlah penduduk yang besar, daerah subur yang terbatas, sering terjadi bencana alam banjir dan gempa bumi, penguasa yang korup, menyebabkan sebagian besar penduduk Tiongkok hidup dalam kemiskinan sejak jaman dahulu. Tanpa kerja keras mereka akan mati kelaparan, terutama di musim dingin.

Di awal tahun 1990-an beberapa perusahaan besar di Indonesia mendatangkan pekerja-pekerja dari Tiongkok. Alasannya: rajin, disiplin, tidak banyak bicara, tidak neko-neko, trampil. Insinyurnya tidak hanya bisa bekerja di belakang meja, tapi biasa dengan pekerjaan lapangan.
Indonesia mulai membangun jalan tol 1975, kini baru memiliki 700 km. Sedangkan Tiongkok yang baru memulainya tahun 1984, kini memiliki 100.000 km! Jakarta saat ini mempunyai dua jalan lingkar Jakarta. Beijing yang membangunnya belakangan sudah mempunyai lima jalan lingkar kota.

Bagaimana dengan keadaan bangsa kita?

Dimulainya reformasi pada tahun 1998 dengan lengsernya pak Harto ternyata tidak membawa bangsa kita menuju arah yang makin baik, bahkan sebagian kalangan kuatir Indonesia akan menjadi bangsa yang gagal! Desentralisasi kekuasaan memunculkan "raja-raja kecil" di daerah, banyak pejabat daerah sudah tidak "takut" kepada Pusat. Korupsi malah makin mengganas hingga ke lembaga yang mustinya menindak korupsi.

Kita sedih melihat banyak anggota masyarakat kita yang makin tidak tertib di jalan (hampir merata di seluruh Indonesia), baik yang naik sepeda motor maupun mobil. Sedihnya lagi ... seringkali dibiarkan oleh petugas. Orang yang tidak tertib di tempat umum, biasanya juga tidak tertib di rumah dan di perusahaan. Prestasi apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang demikian?

Indonesia memiliki banyak pedagang, tetapi kekurangan entrepreneur (wirausaha). Pedagang hanya memikirkan membeli-menjual-untung. Tidak menciptakan nilai tambah. Tokoh bisnis Indonesia, Ir Ciputra mengatakan bahwa setiap bangsa harus mempunyai minimal 2% entrepreneur. Indonesia membutuhkan 4,4 juta wirausaha yang mampu meningkatkan nilai tambah produk Indonesia.

Harapan Menuju Sukses

Meskipun saat ini Indonesia mengalami krisis parah di berbagai bidang, tetapi tetap memiliki potensi untuk menjadi bangsa sukses. Kita memiliki kekayaan alam dan laut yang masih memadai. Yang kita perlukan saat ini adalah pemimpin yang mempunyai visi membangun Indonesia yang kuat dan makmur, berkarakter kuat, berani membuat keputusan dan berani bertindak. Kualitas pemimpin yang demikian diharapkan bisa membawa bangsa Indonesia keluar dari keterpurukan. Tahun depan bangsa Indonesia akan melakukan Pemilu. Semoga muncul "Deng Xiaoping" Indonesia!

Jim Mintarja, Founder and Master Coach of ACME Success International

Artikel sebelumnya :

• Belajar dari Mandela
• Pergaulan Mengubah Diri Anda
• Bersikap Dewasa
• Integritas sebagai Cermin Diri Anda
• Jika Bisa Memimpin Kuda, Anda Bisa Memimpin Orang
• Hindari Jerat-Jerat Kehidupan
• Jangan Sia-Siakan Waktu Tersisa
• Bersiap Menghadapi Krisis 2011
• Bakat Saja Tidak Cukup
• Anda Layak menjadi Pemimpin?
• Anak Belajar dengan Kasih
• Memberdayakan Orang Terbaik
• Jangan Pusingkan UN
• Saatnya untuk Berani Memulai
• Dibalik Runtuhnya Japan Airline
• Kekuatan dari Kasih & Kebersamaan
• Karakter Lebih Penting daripada Reputasi
• Jalan Aman Menuju Sukses
• Belajar dari Orang Sukses
• Faktor Utama Menuju Sukses
• Anda Bisa Ikut Membangun Dunia yang Lebih Baik
• Kehidupan Sukses yang Seimbang
• Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship
• Menghadapi Seleksi Alam
• Solusi di Masa Krisis
• Menjadi Bangsa yang Semakin Dewasa
• Pikir dahulu keuntungan, sesal kemudian tak berguna…
• Kapan Krisis Berakhir?
• Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
• Berkompetisi dengan Sehat
• Menciptakan Peluang dari Badai Krisis
• Pengusaha yang tidak beretika
• Perusahaan mana yang paling aman untuk berkarir?
• Semangat Pantang Menyerah
• Bangsa Berkarakter Unggul